Dear followers.

Selamat pagi dari Belitong Island, salah satu serpihan surga yang jatuh ke bumi Indonesia. Masih sepuluh hari di awal Januari 2020, suasana sisa liburan tahun baru masih terasa. Tak jauh beda dengan yang saya alami di sini. Di kala Jakarta dan sekitarnya dilanda banjir dan curah hujan yang tinggi, di bumi Belitong ini sedang musim angin barat. Di mana hujan dengan curah tinggi disertai angin kencang, dan di saat siang hari matahari seperti memilih milih pada siapa dia mau menunjukkan kekuatannya. Teriknya matahari di musim hujan di sini terasa lebih panas daripada musim kemarau. Duh, SPF 50 sunblock ini rasanya tidak cukup menangkis serangan teriknya. Sunglasses dan topi lebar menjadi sahabat yang tak bisa ditinggalkan, sampai jam 4 sore.

Dua hari ini cuaca sangat ekstrim, hujan petir dan angin sangat kencang sejak dini hari sampai jam 4 sore. Sepanjang malam Saya hanya berserah diri pada Yang Kuasa pada semua kehendakNya. Rumah kami hanya selemparan batu dengan pantai. Terbayangkan apa yang sangat menakutkan bagi Saya yang biasa tinggal di perkotaan…? Dan informasi prakiraan cuaca menjadi fokus Saya setiap harinya. Tersiar kabar dari sosial media beberapa ruas jalan di Belitong tergenang air. Apa yang bisa dilakukan? Berdiam diri di rumah tetapi harus tetap produktif.

Alhasil Saya membuka foto foto hasil ecoprint yang ada, dan tertarik untuk mencoba mengulasnya. Meneruskan kembali list tanaman favorit Saya untuk ecoprint. Juga mulai menggali tanaman lokal Belitung yang sudah pernah Saya gunakan. Tanpa terasa, notebook saya sudah penuh dengan list tanaman.

Yuk kita mulai dengan bunga favorit Saya, Bauhinia Kockiana.

Bunga cantik ini tumbuhan native di Indonesia dan Malaysia. Sering disebut dengan bunga Katup Katup atau bunga Ketup Ketup, atau bunga Merak (Malay) atau red trailing bauhinia. Namanya diambil dari nama dua orang bersaudara ahli botani dari Swiss, Jean, dan Gaspard Bauhin. Spesies bunga ini sangat disukai oleh Gubernur Letnan Hindia Timur Belanda bernama Hendrik Merkus de Kock. Sehingga nama bunga cantik ini menjadi Bauhinia Kockiana. Cantik ya namanya… seperti cantiknya bunga itu. Bunga ini tumbuh memanjat/merambat, bahkan seringkali sampai menutupi crown pohon loh… maka sering disebut dengan Red Trailing Bauhinia.

Karakter bunganya cukup kuat untuk digunakan sebagai pilihan desain ecoprint. Bila saya mendapatkan sediaan yang cukup, bunganya bisa bertahan dua hari di dalam kulkas ataupun hanya direndam di dalam mangkuk berisi air.

Bagaimana dengan hasilnya di tiap jenis kain ataupun media untuk ecoprint?

Wow… hasilnya bagus dan sangat berkarakter, baik di kain linen, silk, katun maupun keramik. Berikut beberapa hasil karya Saya dengan bunga cantik ini, dan beberapa koleksi lainnya dapat dilihat pada pilihan keranjang Anda.

Bunga hitam cantik itu Bauhinia Kockiana dengan media keramik.

Shooting stars theme, pashmina silk dengan Bauhinia Kockiana dan daun Eucalyptus.

Foto diambil setelah bundelan dibuka saat workshop. Dengan tanin yang berbeda menghasilkan tampilan warna yang berbeda. Kali ini dengan tanin yang clear, Bauhinia tercetak jelas berwarna ungu, di atas kain silk. Cantik, bukan..?

Bauhinia Kockiana on cotton, hand woven.

Bauhinia Flower and leaves on linen. Dengan teknik memakai formula yang berbeda, hasilnya memberikan efek 3D di atas kain linen.

Bunga ini juga cantik di atas katun menegaskan “the road to success is not always straight, hold on tight to your dream” dalam wujud hand fan yang indah.

Malam telah larut, hujan pun telah berhenti. Terdengar riuh nyanyian katak bergembira, semoga nyanyiannya tidak lagi memanggil hujan. Biarkan bumi Belitong bangun dengan hangatnya pelukan hangat mentari pagi.

Have a good night… sleep tight
10 Januari 2020

# Ani Ecoprint
# Annie Ecoprint
# Ecoprint Indonesia
# Batik Ecoprint
# Kain Ecoprint
# Natural Dyes